BERSUCI DENGAN TANAH (TAYA TAYAMUM)

Oleh

Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

B. Bersuci Dengan Tanah (Tayammum)

1. Landasan Pensyari’atannya
Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ
“… dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu…” [Al-Maa-idah: 6]
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِيْنَ.
“Sesungguhnya tanah yang suci adalah sarana bersuci bagi seorang muslim. Meskipun ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun.” [1]
2. Sebab-sebab yang memperbolehkan Tayammum

Tayammum diperbolehkan ketika tidak mampu menggunakan air, baik disebabkan ketiadaannya atau karena dikhawatirkan parahnya penyakit yang di derita, atau dingin yang menggigit.

Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Beliau lalu shalat mengimami kami. Tiba-tiba terlihat ada seorang pria yang menyendiri. Lalu beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangimu untuk shalat?’ Dia menjawab, ‘Saya sedang junub dan tidak mendapatkan air.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيْكَ.
“Gunakanlah tanah. Sesungguhnya itu mencukupimu.” [2]
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami keluar dalam sebuah perjalanan. Salah seorang di antara kami terkena batu hingga kepalanya terluka parah. Dia kemudian mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian melihat adanya keringanan bagiku untuk bertayammum?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak mendapatkan keringanan bagimu, sedang kau mampu menggunakan air.’ Kemudian dia mandi lalu wafat. Ketika kami menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu diadukan kepada beliau. Lalu beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jika memang tidak tahu?! Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya. Sesungguhnya cukuplah baginya untuk bertayammum.’” [3]
Dari ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, bahwasanya ketika dia diutus dalam perang Dzaatus Salaasil dia berkata, “Pada suatu malam yang sangat dingin, aku mimpi basah. Aku merasa jika aku mandi maka aku akan celaka. Aku lalu bertayammum kemudian menjadi imam shalat shubuh bagi para sahabatku. Ketika kami menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menceritakan hal itu kepadanya. Beliau berkata, ‘Wahai ‘Amr, kau mengimami para sahabatmu dalam keadaan junub?’ Aku berkata, “Saya teringat firman Allah Ta’ala:
إِنِّي أُرِيدُ أَن تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni Neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 29]
Kemudian aku bertayammum dan shalat. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan tidak mengkritik sedikit pun.” [4]
3. Apakah yang dimaksud dengan اَلصَّعِيْدُ (ash-Sha’iid)?

Dalam Lisaanul ‘Arab disebutkan: Ash-Sha’iid artinya tanah. Ada yang menyatakan: tanah yang suci. Ada pula yang mengatakan: semua debu yang suci. Dalam al-Qur-an:

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
“… Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)…” [Al-Maa-idah: 6]
Abu Ishaq berkata, “Ash-Sha’iid adalah permukaan bumi. Diwajibkan bagi seseorang yang bertayammum untuk menepukkan kedua tangannya pada permukaan bumi. Tidak perlu dipedulikan apakah pada tempat itu terdapat debu atau tidak. Karena ash-Sha’iid bukanlah debu. Ia adalah permukaan bumi. Baik debu atau selainnya. Dia melanjutkan, “Seandainya seluruh permukaan tanah adalah batu yang tidak ada debu di atasnya. Lalu orang yang hendak bertayammum menepukkan tangannya ke atas batu itu, maka hal itu sudah menjadi penyuci baginya jika ia mengusapkan pada wajahnya.”
4. Tata Cara Tayammum

Dari ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku junub dan tidak memiliki air. Aku lantas berguling-guling di atas tanah lalu shalat. Kuceritakan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau berkata:

إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ هكَذَا. وَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ اْلأَرْضَ وَنَفَخَ فِيْهِمَا ثُمَّ مَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ.
“Sesungguhnya, cukuplah kau lakukan begini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepukkan kedua telapak tangannya ke atas tanah lalu meniupnya. Kemudian beliau usap dengannya wajah dan kedua telapak tangan beliau.” [5]
Catatan:

Hukum asal tayammum adalah sebagai pengganti wudhu. Perkara-perkara yang boleh dilakukan dengan wudhu juga boleh dilakukan dengan tayammum. Diperbolehkan tayammum sebelum masuk waktu shalat sebagaimana wudhu juga dibolehkan. Juga dibolehkan shalat sesuka hati dengan (sekali) tayammum (selama tidak batal) sebagaimana shalat dengan wudhu.

5. Hal-Hal yang Membatalkan Tayammum

Tayammum batal dengan perkara yang membatalkan wudhu. Ia juga batal dengan adanya air bagi yang sebelumnya tidak mendapatkan air. Dikatakan juga dengan adanya kemampuan untuk menggunakan air bagi yang sebelumnya tidak mampu. Adapun shalat yang telah dikerjakan, maka tetap sah dan tidak wajib diulang.

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dua orang laki-laki berada dalam sebuah perjalanan. Lalu tibalah waktu shalat, sedangkan mereka tidak memiliki air. Kemudian bertayammum dengan tanah yang suci lalu shalat. Beberapa saat kemudian, mereka menemukan air. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat, sedangkan yang satunya tidak. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. Lalu beliau berkata kepada orang yang tidak mengulang, ‘Engkau telah melakukan sunnah dan shalatmu sudah mencukupi’. Dan berkata kepada orang yang berwudhu dan mengulang shalatnya, ‘Engkau mendapatkan dua kali.’” [6]
Catatan:

Barangsiapa mempunyai luka yang telah dibalut, atau patah tulang yang telah digips, maka gugurlah kewajiban membasuh tempat itu. Dia tidak wajib mengusap dan tidak pula bertayammum untuk cedera tersebut.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” [Al-Baqarah: 286]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.
“Jika kuperintah kalian terhadap suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.” [7]
Maka dengan al-Qur-an dan Sunnah, gugurlah semua kewajiban yang seseorang merasa tidak mampu melakukannya. Kewajiban pengganti termasuk syari’at. Sedangkan syari’at tidak mewajibkan sesuatu melainkan dengan al-Qur-an dan Sunnah. Dan al-Qur-an dan Sunnah tidak menyebutkan bahwa mengusap gips atau pengobatan sejenisnya adalah pengganti dari membasuh anggota tubuh yang (secara medis) tidak bisa dibasuh. Maka gugurlah pendapat tersebut. [8]
6. Dibolehkan Bertayammum dengan Tembok

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku dan ‘Abdullah bin Yasar, mantan budak Maimunah, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemui Abu Juhaim bin al-Harits bin ash-Shimmah al-Anshari. Lalu berkatalah Abul Juhaim, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari arah sumur Jamal [9]. Kemudian seorang laki-laki berjumpa dengannya dan mengucap salam pada beliau. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya hingga mendatangi sebuah tembok dan mengusap wajah dan kedua tangannya. Setelah itu beliau menjawab salamnya’.” [10]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 322)], Sunan at-Tirmidzi (I/81 no. 124), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/528 no. 329), dan Sunan an-Nasa-i (I/171), dengan lafazh yang hampir serupa.
[2]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/477 no. 344)], Shahiih Muslim (I/474 no. 682), dan Sunan an-Nasa-i (I/171).
[3]. Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 326)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/532 no. 332), di dalamnya terdapat tambahan yang munkar, yaitu: “… dia lalu membalut atau memperban lukanya dengan secarik kain kemudian mengusapnya dan membasuh seluruh tubuhnya.” Syamsul Haqq berkata dalam ‘Aunul Ma’buud (I/535), “Riwayat yang menggabungkan antara tayam-mum dan mandi, yaitu yang diriwayatkan selain Zubair bin Khuraiq, maka tidak kuat secara ilmu hadits, juga telah menyelisihi semua yang meriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabah. Jadi, riwayat yang menggabungkan antara mandi dan tayammum adalah riwayat dha’if yang tidak bisa digunakan untuk me-netapkan hukum.” Perhatikanlah catatan yang akan disebutkan pada halaman berikut ini.
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 323)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/530 no. 330), Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (II/191 no. 16), dan Mustadrak al-Hakim (I/177).
[5]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/455 no. 347)], Shahiih Muslim (I/280 no. 368), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/514 no. 317), dan Sunan an-Nasa-i (I/166).
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 327)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/536 no. 334), dan Sunan an-Nasa-i (I/213).
[7]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 639)], Shahiih Muslim (II/975 no. 1337), dan Sunan an-Nasa-i (V/110).
[8]. Al-Muhallaa (II/74).
[9]. Sebuah tempat dekat Madinah.
[10]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/441 no. 337)], Shahiih Muslim (I/281 no. 369), secara mu’allaq, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/521 no. 325), dan Sunan an-Nasa-i (I/165).

MANDI

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
3. Mandi
a. Hal-Hal Yang Mewajibkannya:
1. Keluar mani, baik saat terjaga ataupun tidur
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.
“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [1]
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau berkata, “Ya, jika dia melihat air.” [2]
Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.
Berdasarkan sabda beliau:
إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.
“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.”[3]
Asy-Syaukani berkata, [4] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata, “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”
Barangsiapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barangsiapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani) sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab, ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab, ‘Dia tidak wajib mandi’.” [5]
2. Jima’, walaupun tidak keluar air mani
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.
“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi. Meskipun tidak keluar air mani.” [6]
3. Masuk Islamnya orang kafir
Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [7]
4. Terputusnya haidh dan nifas
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:
إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.
“Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [8]
Nifas dan haidh dihukumi sama secara ijma’.
5. Hari Jum’at
Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.
“Mandi hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [9]
b. Rukun-Rukunnya:
1. Niat
Berdasarkan hadits:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”
2. Meratakan air pada sekujur badan.
c. Tata Cara Yang Disunnahkan Ketika Mandi
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi janabah (junub), beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya.” [10]
Catatan:
Tidak wajib bagi seorang wanita mengurai rambutnya ketika mandi janabah (junub). Namun wajib dilakukan ketika mandi sehabis haidh.
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau berkata:
لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.
“Tidak, cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [11]
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi setelah selesai haidh. Beliau lalu bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata, “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik, “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”
Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau tentang mandi (junub) janabah. Beliau lalu bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.
“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [12]
Dalam hadits ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haidh dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haidh agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada mandi janabah tidak ditekankan hal tersebut. Dan hadits Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [13]
Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haidh yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.
Catatan:
Diperbolehkan bagi suami isteri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.
“Aku dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [14]
d. Mandi-Mandi Yang Disunnahkan:
1. Mandi pada setiap selesai jima’
Berdasarkan hadits Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggilir isteri-isterinya. Beliau mandi setiap selesai dari fulanah dan dari si fulanah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau berkata, “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [15]
2. Mandinya wanita mustahadhah (yang sedang haidh) setiap akan shalat
Atau sekali mandi untuk shalat Zhuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Shubuh sekali mandi.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. lalu Beliau menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [16]
Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata, “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zhuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Shubuh. [17]
3. Mandi setelah pingsan
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit parah. Beliau lalu berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.'” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadits ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [18]
4. Mandi setelah menguburkan orang musyrik
Berdasarkan hadits ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm dan berkata, “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau berkata, “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Mandilah.” [19]
5. Mandi pada dua hari raya dan hari ‘Arafah
Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata, “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyari’atkan dalam agama-pent).” Dia berkata, “(Mandi) hari jum’at, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”
6. Mandi setelah memandikan mayat
Berdasarkan sabda beliau:
مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.
“Barangsiapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [20]
7. Mandi untuk ihram ‘umrah atau haji
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, “Dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [21]
8. Mandi ketika memasuki kota Makkah
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya. [22]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

_____
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122).
[2]. Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82).
[3]. Nailul Authaar (I/275).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348).
[6]. Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351).
[7]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafazh mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”
[8]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089).
[9]. Muttafaq ‘alaihi.
[10]. hahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603).
[11]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)).
[12]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[13]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[14]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129).
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590).
[16]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289).
[17]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184).
[18]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687).
[19]. Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198).
[20]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463).
[21]. Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831).
[22]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854). .

WUDHU

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

A. Thaharah dengan Air, yaitu Wudhu dan Mandi
1. Wudhu

a. Tata caranya:
Dari Humran bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu :

أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ: فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati [1] dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’”
Ibnu Syihab mengatakan bahwa ulama-ulama kita berkata, “Wudhu ini adalah wudhu paling sempurna yang dilakukan seseorang untuk shalat.” [2]
b. Syarat sahnya:
1. Niat
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niat.” [3]
Tidak disyari’atkan mengucapkannya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya.
2. Mengucap basmalah
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.
“Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” [4]
3. Berkesinambungan (tidak terputus)
Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي وَفِيْ ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةً قَدْرَ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيْدَ الْوُضُوْءَ وَالصَّلاَةَ.
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya.” [5]
c. Rukun-rukunnya:
1, 2. Membasuh wajah, termasuk berkumur dan menghirup air melalui hidung.
3. Membasuh kedua tangan hingga siku.[6]
4, 5. Mengusap seluruh kepala. Dan telinga termasuk kepala.
6. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” [Al-Maa-idah: 6]
Adapun berkumur dan menghirup air ke dalam hidung, maka disebabkan keduanya masih termasuk wajah, hingga wajiblah keduanya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan membasuhnya dalam Kitab-Nya yang mulia. Dan telah valid bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dalam wudhu secara terus-menerus. Semua yang meriwayatkan serta menjelaskan tata cara wudhu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkannya. Itu semua menunjukkan bahwa membasuh wajah yang diperintahkan dalam al-Qur-an adalah dengan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung. [7]
Juga terdapat perintah mengerjakan keduanya dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ.
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, jadikanlah (hiruplah) air ke dalam hidungnya, lalu semburkanlah.” [8]
Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.
“Hiruplah air ke hidung dengan sangat, kecuali jika kau sedang berpuasa.”[9]
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ.
“Jika engkau berwudhu, maka berkumurlah.” [10]
Wajib mengusap kepala secara merata, karena perintah mengusap dalam al-Qur-an masih global. Maka penjelasannya dikembalikan ke Sunnah. Disebutkan dalam ash-Shahihain dan yang lainnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala beliau secara merata. Di sini terdapat dalil atas wajibnya mengusap kepala secara sempurna.
Jika ada yang berkata, “Dalam hadits al-Mughirah disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap ubun-ubun dan bagian atas sorban beliau?”
Jawabannya, “Beliau mencukupkan mengusap ubun-ubun saja karena membasuh sisa kepala telah sempurna dengan mengusap bagian atas sorban. Inilah pendapat kami. Bukan berarti ini adalah dalil atas bolehnya mencukupkan mengusap ubun-ubun atau sebagian kepala tanpa menyempurnakannya dengan mengusap bagian atas sorban.” [11]
Kesimpulannya, wajib mengusap kepala secara merata. Dan orang yang mengusap, jika suka, dia boleh mengusap kepala saja, atau bagian atas sorban saja, atau boleh juga kepala dan bagian atas sorban. Semuanya benar dan ada dalilnya.
Kedua telinga adalah bagian dari kepala. Maka wajib mengusap keduanya. Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اَلأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ.
“Kedua telinga adalah bagian dari kepala.” [12]
7. Menyela-nyela jenggot
Berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu : “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya. Dengan air itu beliau sela-selai jenggotnya. Beliau lantas bersabda:

هكَذَا أَمَرَنِي رَبِّيعز عزوجل .
“Begitulah Rabb-ku Azza wa Jalla memerintahku.” [13]
8. Menyela-nyelai jari-jemari kedua tangan dan kaki
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.
“Sempurnakanlah wudhu, sela-selai jari-jemari, dan hiruplah air ke dalam hidung dengan kuat, kecuali jika engkau sedang berpuasa.”
d. Sunnah-Sunnah Wudhu
1. Bersiwak
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ الْوُضُوْءِ.
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali berwudhu.”
2. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu
Dasarnya adalah riwayat dari ‘Utsman Radhiyallahu anhu dalam ceritanya tentang tata cara wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali.”

3. Menggabungkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dengan segenggam air sebanyak tiga kali.
Dasarnya adalah hadits ‘Abdullah bin Zaid saat dia mengajarkan wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salla : “Beliau berkumur dan menghirup air ke dalam hidung dari satu genggam tangan. Dan beliau melakukannya sebanyak tiga kali.” [14]

4. Melakukan keduanya dengan sangat bagi yang tidak puasa
Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.
“Hiruplah air ke dalam hidung dengan kuat, kecuali jika engkau sedang puasa.”
5. Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

كَـانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَـامُنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطَهُوْرِهِ وَفِيْ شَأْنِهِ كُلِّهِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua hal.” [15]
Juga dalam kisah ‘Utsman saat menceritakan tata cara wudhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beliau membasuh bagian kanan kemudian bagian kiri.”
6. Menggosok
Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Zaid: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tiga mudd air. Beliau lalu berwudhu dan menggosok kedua tangannya.”[16]

7. Membasuh tiga kali
Berdasarkan hadits ‘Utsman Radhiyallahu anhu : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wudhu dengan membasuh tiga kali.”

Ada juga dalil shahih yang menyatakan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah wudhu dengan membasuh sekali atau dua kali. [17]
Disunnahkan mengulang usapan kepala secara kadang-kadang.
Berdasarkan riwayat shahih dari ‘Utsman. Bahwa dia berwudhu lalu mengusap kepala tiga kali. Dia kemudian berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti ini.” [18]
8. Berurutan
Karena begitulah kebanyakan wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dikisahkan orang yang menceritakan tata cara wudhu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun terdapat riwayat shahih dari al-Miqdam bin Ma’dikarib: “Dia membawakan air wudhu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lantas berwudhu dan membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Membasuh wajahnya tiga kali, lalu membasuh kedua tangannya tiga kali. Beliau kemudian berkumur dan (menghirup air ke dalam hidung lalu) menyemburkannya. Setelah itu mengusap kepala dan kedua telinganya…” [19]

9. Berdo’a setelah selesai
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Melainkan dibukakan baginya delapan pintu Surga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki.” [20]
At-Tirmidzi menambahkan:
اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.” [21]
Dari Abu Sa’id, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu lalu mengucap:
سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.
“Mahasuci dan Terpuji Engkau ya Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.” Niscaya ditulislah dalam lembaran putih, lalu dicap dengan sebuah stempel yang tidak akan rusak hingga hari Kiamat.” [22]
10. Shalat dua raka’at setelahnya
Berdasarkan hadits ‘Utsman Radhiyallahu anhu setelah mengajari mereka tata cara wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوُ وُضُوْئِـي هذَا، ثُمَّ قَـامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسُهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa berwudhu sebagaimana wudhuku ini, lalu shalat dua raka’at, sedang dia tidak berkata-kata dalam hati (tentang urusan dunia) ketika melakukannya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ketika hendak shalat Shubuh, “Wahai Bilal, beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di Surga.” Dia menjawab, “Tidaklah aku melakukan amalan yang paling aku harapkan (pahalanya). Hanya saja, aku tidaklah bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat (sunnah) dengannya apa-apa yang sudah dituliskan (ditakdir-kan) tentang shalatku.” [23]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Tentang urusan-urusan dunia, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Muslim.-ed.
[2]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/204 no. 226)], ini adalah lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/266 no. 164), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/180 no. 106), dan Sunan an-Nasa-i (I/64).
[3]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/9 no. 1)], Shahiih Muslim (III/1515 no. 1907), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (VI/284 no. 2186), Sunan at-Tirmidzi (III/100 no. 1698), Sunan Ibni Majah (II/1413 no. 4227), dan Sunan an-Nasa-i (I/59).
[4]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 320)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/174 no. 101), dan Sunan Ibni Majah (I/140 no. 399).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 161)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/296 no. 173).
[6]. Imam asy-Syafi’i berkata dalam al-Umm (I/25), “Membasuh kedua tangan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh antara ujung-ujung jemari hingga siku. Dan tidaklah cukup kecuali dengan membasuh sisi luar, dalam, dan samping kedua tangan, hingga sempurnalah membasuh keduanya. Jika meninggalkan sedikit saja dari bagian ini, maka tidak boleh.”
[7]. As-Sailuul Jarraar [(I/81)].
[8]. Shahih [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 443)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/234 no. 140), dan Sunan an-Nasa-i (I/66).
[9]. Shahih [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 129, 131)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/236 no. 142, 144).
[10]. Ibid.
[11]. Tafsiir Ibni Katsiir [(II/24)], dengan pengubahan.
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 357)] dan Sunan Ibni Majah (I/152 no. 443).
[13]. Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 92)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/243/ no. 145), dan al-Baihaqi (I/54).
[14]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 125)] dan Shahiih Muslim (I/210 no. 235).
[15]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/269/168)], Shahiih Muslim (I/226 no. 268), (XI/199 no. 4122), dan Sunan an-Nasa-i (I/78).
[16]. Sanadnya shahih: [Shahiih Ibni Khuzaimah (I/62 no. 118)].
[17]. Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 124)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/258 no. 158), dari hadits ‘Abdullah bin Zaid. Diriwayatkan juga dalam Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/230 no. 136), Sunan at-Tirmidzi (I/31 no. 43), dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[18]. Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 101)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/188 no. 110).
[19]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 112)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/211 no. 121).
[20]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 143)] dan Shahiih Muslim (I/209 no. 234).
[21]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 48)] dan Sunan at-Tirmidzi (I/38 no. 55).
[22]. Shahih: [At-Targhiib (no. 220)], Mustadrak al-Hakim (I/564). Tidak ada riwayat yang shahih tentang berdo’a ketika wudhu (pada saat membasuh tiap-tiap anggota wudhu.’-pent.)
[23]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/34 no. 1149)] dan Shahiih Muslim (IV/1910 no. 2458).